Profil investasi 2019

BAGIAN 1 – PENDAHULUAN

                                      

 

  • Latar Belakang

Kabupaten Luwu Timur yang terbentuk pada tanggal 03 Mei 2003 berdasarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2003 memiliki luas Wilayah 6.944,88 Km2 dan panjang garis pantai 117,4 Km. Di usia yang ke 15 tahun, dibawah kepemimpinan Bupati Luwu Timur  Ir. H. MUH. THORIQ HUSLER dan Wakil Bupati Luwu Timur IRWAN BACHRI SYAM, ST bertekad mewujudkan Luwu Timur Terkemuka 2021.

Untuk mendukung visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mendorong pembangunan di seluruh sektor dan bidang serta mengoptimalkan pengelolaan potensi sumberdaya dengan baik dan berkelanjutan melalui Membangun Desa Menata Kota. Hal ini didukung dengan posisi Kabupaten Luwu Timur sebagai salah satu Jalur Emas di Pulau Sulawesi yang menghubungkan  tiga  provinsi di Pulau Sulawesi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah yang memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar.

Salah satu upaya yang telah dilakukan dalam rangka mendukung Pembangunan Strategis Nasional sebagaimana termuat dalan NAWACITA yang mendukung pencapaian Luwu Timur Terkemuka adalah Pembangunan Pabrik Rumput Laut Kab. Luwu Timur kapasitas 3 Ton/Hari dengan produk akhir adalah Tepung Agar-Agar. Pabrik ini merupakan satu-satunya Pabrik Rumput Laut yang dibangun oleh Pemerintah dengan output akhir tepung agar sehingga dapat dijadikan Pilot Project Nasional Pengembangan Industri Rumput Laut Indonesia. Dari hasil pengujian awal diperoleh Tepung Agar GS 950 yang merupakan kualitas terbaik dan akan semakin meningkat seiring dengan pengembangan dan pengelolaan Pabrik Rumput Laut yang lebih baik.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 27 Tahun 2005 membentuk SKPD yang membidangi kelautan dan perikanan yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Luwu Timur yang selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Luwu Timur Nomor 08 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah menjadi Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan Kabupaten Luwu Timur

Perkembangan yang telah terjadi selama 15 tahun sejak terbentuknya Kab. Luwu Timur perlu dibuat dalam satu buku profil terkini tentang potensi sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Luwu Timur yang dapat mempresentasikan Potensi Kelautan, Perikanan dan Pangan Kab. Luwu Timur dalam Bentuk Buku “Profil Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan Kabupaten Luwu Timur.

 

 

1.2     Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari penerbitan buku profil Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan Kab. Luwu Timur tahun 2018 adalah sebagai berikut :

  • Menyediakan data & informasi mengenai peluang investasi sektor kelautan dan perikanan di Kab. Luwu Timur secara lengkap kepada seluruh pihak dan stakeholder untuk berinvestasi di Kab. Luwu Timur.
  • Mendorong upaya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara cepat, tepat dan
  • Menambah khasanah kepustakaan dan dokumentasi sektor kelautan dan perikanan serta memperluas cakrawala pandang dan menggelorakan semangat cinta bahari masyarakat Luwu Timur untuk berperan aktif dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

 

1.3     Letak Geografis Kab. Luwu Timur

Daerah ini terletak pada bagian ujung Timur Provinsi Sulawesi Selatan dengan Ibu Kota Malili, terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2003. Secara geografis Kabupaten Luwu Timur membentang dari arah pesisir Barat sampai ke Timur Teluk Bone yaitu  2o03’56’’-3o03’25’’ Lintang Selatan dan 119o28’56’’-121o47’27’’ Bujur Timur dan berbatasan langsung dengan :

  • Sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah;
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Teluk Bone;
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara.

Sedangkan secara administratif Kabupaten Luwu Timur dengan Ibu Kota di Malili memiliki luas wilayah 6.944,88 Km2 atau meliputi 11,14% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.  Wilayah ini terbagi ke dalam 11 (sebelas) kecamatan yaitu Kecamatan Malili, Angkona, Wotu, Burau, Mangkutana, Tomoni, Tomoni Timur, Kalaena, Wasuponda, Nuha dan Towuti. Empat kecamatan yang pertama merupakan kecamatan pesisir.

BAGIAN 2 – PELUANG INVESTASI

 

                                                                                                                   POTENSI DAN PELUANG INVESTASI                                                                                

2.1     Potensi Wilayah

Potensi dan peluang investasi sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Luwu Timur Secara umum sangat besar dan menjanjikan. Jenis Komoditi yang dapat dikembangkan merupakan komoditi ekspor dengan potensi produksi skala  besar. Hal ini didukung dengan ketersediaan lahan produksi yang sangat luas dan layak serta dukungan sarana dan prasarana yang sangat memadai yang terdiri dari

  • Panjang garis pantai :        117,4           Km
  • Luas perairan otonomi :        050         Km2
  • Luas Tambak :        832         Ha
  • Luas Budidaya Rumput Laut :        620           Ha
  • Luas Budidaya Air Tawar :        424           Ha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Potensi Sektor Kelautan dan Perikanan Kab. Luwu Timur secara umum mencakup Potensi Perikanan Tangkap dan Potensi Perikanan Budidaya yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Luwu Timur. Hal ini didukung dengan letak geografis kab. Luwu timur yang terdiridari wilayah laut dan darat  dengan sembilan sungai besar yang mengalir di wilayah Kab. Luwu Timur melintasi  kecamatan. Sungai terpanjang yaitu Sungai Kalaena dengan panjang 85 Km dan yang terpendek Sungai Bambalu dengan panjang 15 Km. 

Selain itu terdapat lima danau alami yang sangat indah dan dipertahankan kealamiannya yaitu Danau Matano (dengan luas 245,70 km2), Danau Mahalona (25 km2), Danau Towuti (585 km2), Danau Taparang Masapi (2,43 km2) dan Danau Lontoa (1,71 km2 ).  Danau Matano terletak di Kecamatan Nuha sedangkan 4 (empat) danau lainnya tersebar di Kecamatan Towuti.

Selain itu Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan juga berkomitemen dalam membangun Bidang Pangan, berikut perkembangan Pangan di Kabuapaten Luwu Timur :

 

 

 

2.2.    Potensi Perikanan Budidaya

Perikanan budidaya merupakan salah satu potensi investasi yang sangat potensial untuk dikembangkan di Kab. Luwu Timur. Hal ini didukung  dengan potensi lahan yang layak untuk budidaya sangat luas. Tingkat pemanfaatan lahan untuk pengembangan komoditi perikanan budidaya sampai dengan saat ini belum mencapai 30% dari potensi lahan yang dapat dikembangkan sehingga target produksi yang dicapai pun masih sangat rendah dari potensi produksi yang dapat dicapai.

Adapun potensi perikanan budidaya Kabupaten Luwu Timur secara umum meliputi :

  1. Potensi Perikanan Budidaya Air Laut
  2. Potensi Perikanan Budidaya Air Payau
  3. Potensi Perikanan Budidaya Air Tawar

 

 

  • Potensi Perikanan Budidaya di Air Laut

Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi kawasan budidaya laut yang cukup besar di wilayah perairan teluk Bone, dengan garis pantai 117,4 km sepanjang pesisir Kec. Burau, Wotu, Angkona dan Malili. Kondisi perairan laut yang masih alami dan tidak mengalami pencemaran merupakan salah satu faktor utama yang mendukung pengembangan potensi budidaya laut di wilayah ini. Komoditi unggulan yang dapat dikembangkan antara lain :

  1. Komoditi Ikan Kerapu di Keramba jaring Apung

Ikan Kerapu merupakan salah satu komiditi tangkapan nelayan diperairan Luwu Timur yang cukup besar. Komoditi ini merupakan salah satu komoditi ekspor yang bernilai jual tinggi dengan potensi pemasaran yang sangat besar. Kawasan perairan laut sekitar Bulu Polo’e merupakan salah satu area yang sangat cocok untuk budidaya Ikan Kerapu dengan keramba jaring apung. Untuk mendorong pengembangan budidaya kerapu di keramba jarring apung, pemerintah Kab. Luwu Timur telah menyediakan sarana keramba jaring apung.

 

  1. Komoditi Teripang dan Lobster

Teripang dan Lobster sebagai salah satu komoditi ekspor di kab. Luwu Timur belum dikelolah dengan baik oleh para nelayan di Kab. Luwu Timur karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai teknik penangkapan maupun  budidaya Lobster Laut.  Untuk menjaga kelestarian ekosistem teripang dan lobster di Bumi Batara Guru dari aktivitas penangkapan secara besar-besaran dan tidak bertanggungjawab.

                          

  1. Komoditi Rumput Laut Euchema Cottonii

Budidaya rumput laut Euchema Cottoni merupakan salah satu komoditi unggulan Kab.Luwu Timur yang dibudidayakan dikawasan perairan Teluk Bone sepanjang pantai pesisir kab. Luwu Timur khususnya di perairan Kec. Burau sampai pantai Wotu. Luas Lahan untuk Pengembangan Rumput Laut Euchema Cottonii di Bumi Batara guru mencapai  2.620 Ha dengan kisaran produksi 13.338 ton kering per tahun dengan asumsi produktivitas rata-rata 15.000 kg/Ha

Produksi tersebut masih dapat ditingkatkan lagi mengingat potensi lahan budidaya yang belum terdata dengan baik masih sangat luas. Produksi rumput laut euchema cottoni Kab. Luwu Timur pada tahun 2016 pada lahan produksi seluas 889 Ha atau 33,85% dari potensi lahan dengan produksi mencapai  15.009 ton kering.

 

Tabel Potensi  komoditi rumput laut Euchema Cottonii  Kab. Luwu Timur

 

Kecamatan

Potensi

lahan

(ha)

Lahan Produktif

(ha)

Produksi Basah

(ton)

Produktivitas

 

(kg/ha)

Burau

1.500

463

78.097

168.676

Wotu

800

426

71.995

169.002

Angkona

200

-

-

-

Malili

120

-

-

-

Jumlah 2017

2.620

889

15.009

160.078

Catatan : 1 Ton Kering = 10 Ton Basah

 

 

 

 

2.2.2  Potensi Perikanan Budidaya Air Payau

Produksi perikanan budidaya air payau atau tambak di Kabupaten Luwu Timur mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Hal ini didukung dengan ketersediaan lahan tambak untuk budidaya yang cukup luas mencapai  13.832 Ha.

  1. Komoditi Rumput Laut Gracillaria sp

Komoditi Rumput laut Gracillaria, sp merupakan salah satu komoditi unggulan Kab. Luwu Timur yang telah berhasil dikembangkan dan dibudidayakan. Potensi Pengembangan Rumput Laut Gracillaria sp di Bumi Batara Guru didukung dengan ketersediaan lahan yang layak untuk budidaya seluas 13.832 Ha dengan kisaran produksi mencapai 65.000 ton kering per tahun dengan asumsi produktivitas rata-rata 60.000 kg/Ha.

Produksi Rumput Laut Gracillaria sp kabupaten Luwu Timur pada tahun 2016 dengan luas lahan produksi seluas 2.433 Ha (22,44% dari potensi lahan) mencapai 14.413 Ton Kering dengan produktivitas mencapai 62.924 kg/Ha  sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Potensi tersebut masih dapat ditingkatkan lebih besar lagi, mengingat bahwa lahan potensial untuk pengembangan masih tersedia sangat luas. Peningkatan produksi juga seiring dengan peningkatan pengetahuan masyarakat pembudidaya dalam penerapan metode dan teknologi budidaya rumput laut yang tepat guna dan modern,

Tabel Potensi pengembangan Gracillaria Kab. Luwu Timur

 

Kecamatan

Potensi lahan

(ha)

Lahan produktif

(ha)

Produksi basah

(ton)

Produktivitas

 

(kg/ha)

Burau

800

-

-

-

Wotu

2.500

-

-

-

Angkona

2.991

836

50.298

60.165

Malili

7.541

1.597

97.133

60.822

Jumlah 2018

13.832

2.433

14.431

60.596

Catatan : 1 Ton Kering = 10 Ton Basah

  1. Komoditi Ikan Bandeng

Ikan Bandeng merupakan salah satu komoditi unggulan Kab. Luwu Timur yang saat ini menempati peringkat terbaik di Prop. Sulawesi Selatan.  Komoditi ini dibudidayakan pada 4 (empat) wilayah kecamatan pesisir untuk memenuhi kebutuhan domestik dan daerah lainnya baik di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Potensi Pengembangan Ikan Bandeng di Bumi Batara Guru didukung dengan ketersediaan lahan yang layak untuk budidaya seluas 10.841 Ha dengan kisaran produksi mencapai 16.000 ton per tahun pada tingkat produktivitas rata-rata 1.500 kg/Ha.

Peningkatan produksi Ikan Bandeng tidak terlepas dari berbagai kegiatan pengembangan kawasan dudidaya air payau. Produksi ini akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan produktivitas melalui peningkatan pengetahuan pembudidaya dan penerapan teknologi tepat guna.

Produksi Ikan Bandeng kab. Luwu Timur pada tahun 2017 dengan luas lahan produksi seluas 6.320 Ha (45,69% dari potensi lahan) mencapai 13.832 ton dengan produktivitas 1.647 kg/Ha  sebagaimana disajikan pada tabel berikut :

Tabel Potensi pengembangan Ikan Bandeng Kab. Luwu Timur

 

 

Kecamatan

Potensi Lahan

(ha)

Lahan Produktif

(ha)

Produksi

 

(ton)

Produktivitas

 

(kg/ha)

Burau

800

382

614

1.607

Wotu

2.500

1.875

3.025

1.613

Angkona

2.991

1.420

2.315

1.630

Malili

7.541

2.643

4.458

1.687

Jumlah 2017

13.832

6.320

10.412

1.647

 

 

  1. Komoditi Udang Windu/Vanamae

Udang merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Luwu Timur yang dibudidayakan oleh masyarakat di dengan potensi usaha yang cukup baik serta segementasi pasar yang sangat tinggi. Secara umum jenis udang yang paling banyak dikembangkan oleh para pembudidaya adalah Udang Windu dan Udang Vanamae. Terdapat juga udang laci-laci dan udang Galah.

Luas lahan untuk pengembangan budidaya udang di Bumi Batara Guru mencapai 13.832 Ha dengan kisaran produksi sebesar 8.130 ton/tahun pada tingkat produktivitas 750 kg/Ha.

Produksi Udang Kab. Luwu Timur pada tahun 2017 dengan luas lahan budidaya 2.678 Ha (24,70% dari total potensi lahan) mencapai 2.879 Ton. Sedangkan jenis udang api-api (laci-laci) merupakan salah satu jenis udang yang memiliki tingkat produksi yang tinggi dan menjadi pangsa pasar favorit masyarakat tingkat menengah.

Produksi ini akan terus meningkat seiring dengan semakin tingginya permintaan terhadap komoditi ini dengan segmen pasar ekspor dan nilai jual yang sangat tinggi. Peningkatan metode/teknik budidaya, penerapan teknoologi tepat guna, perbaikan tambak dan rehabilitas irigasi tambak akan mendukung pengembangan budiddaya udang yang lebih baik. Salah satu metode yang dapat diterapkan antara lain metode budidaya udang intensif dan super intensif dengan produktivitas dapat mencapai 25.000 kg/ha

Tabel Potensi Pengembangan Komoditi Udang Kab. Luwu Timur

Kecamatan

Potensi lahan

(ha)

Lahan produktif

(ha)

Produksi

 

(ton)

Produktivitas

 

(kg/ha)

Burau

800

260

213

819

Wotu

2.500

760

727

957

Angkona

2.991

675

792

1.153

Malili

7.541

983

1.0165

1.185

Jumlah 2017

13.832

2.678

2.897

1.082

  1. Komoditi Kepiting

Kepiting merupakan  salah satu komoditi unggulan di Bumi Batara Guru. Jenis kepiting yang diperjualbelikan adalah kepiting air tawar dan kepiting bakau.

Kepiting air tawar diperoleh dari habitat aslinya baik disungai maupun diperairan danau Malili. Sedangkan Kepiting Bakau diperoleh dari penangkapan langsung dari habitatnya di area hutan bakau dan tambak yang cukup luas di Kab. Luwu Timur.

Produksi kepiting Kab. Luwu Timur cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya, hal ini dikarenakan produksi kepiting bergantung sepenuhnya kepada hasil tangkapan dari alam.

Potensi pengembangan kepiting di Kab. Luwu Timur sangat menjanjikan khususnya dengan metode budidaya kepiting cangkang lunak dan pembesaran kepiting sehingga dihasilkan produksi kepiting yang besar melimpah dengan kualitas yang tinggi sehingga dapat memenuhi memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi.

 

2.2.3  Budidaya Air Tawar

Potensi  pengembangan perikanan budidaya air tawar di Kabupaten Luwu Timur secara umum dapat dilaksanakan di seluruh kecamatan. Hal ini didukung dengan ketersedian air yang melimpah dan layak bersumber dari sungai, irigasi dan danau.  potensi lahan perikanan budidaya air tawar di Kabupaten Luwu Timur sebagai berikut:

  1. Kolam Air Tawar

Budidaya ikan dengan kolam air tawar merupakan salah satu metode budidaya yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat di Kab. Luwu Timur di seluruh kecamatan. Komoditi ikan yang umum dikembangkan adalah Ikan Lele, Ikan Mas, Ikan Nila, Ikan Gurami dan Ikan  Bawal yang dibudidayakan untuk menyuplai kebutuhan domestik maupun kebutuhan luar daerah.

 

  1. Kolam Terpal

Budidaya ikan dengan kolam terpal adalah salah satu metode yang saat ini sangat digandrungi oleh masyarakat karena lebih praktis dan efisien. Adapun komoditi yang dikembangkan antara lain adalah ikan lele dan ikan nila.

 

  1. Sawah Mina Padi

Kab. Luwu Timur sebagai salah satu sentra produksi padi di Sulawesi Selatan dengan lahan sawah yang luas ditunjang sarana irigasi yang memadai dan tidak pernah kering sepanjang tahun. Hal ini merupakan salah satu potensi yang besar dalam mengembangkan komoditi perikanan budidaya dengan metode mina padi.

Potensi lahan pengembangan budidaya ikan dengan sistem mina padi di Kab. Luwu Timur mencapai 2.000 Ha dengan produktivitas berkisar 1.000 kg/Ha sehingga total produksi mencapai 2.000 ton per tahun.

Potensi yang sangat besar ini belum dapat dicapai dikarenakan permintaan pasar untuk ikan air tawar masih minim. Sehingga dibutuhkan investor yang dapat menjamin hasil produksi pembudidaya dapat terjual habis sehingga produksi ikan dapat lebih ditingkatkan lagi.  

Tabel Produksi dan potensi lahan perikanan budidaya air tawar dengan Sistim Kolam Air Tawar Kab. Luwu Timur Tahun 2016

Kecamatan

Potensi Lahan

(ha)

Lahan Produktif

(ha)

Produksi

(ton)

Burau

168

32,0

32

Wotu

211,8

55,0

63

Angkona

258,5

53,0

52

Malili

311,7

60,0

22

Mangkutana

502,8

234,0

228

Tomoni

304

63,0

62

Tomoni timur

502

62,0

61

Kalaena

351,4

56,0

55

Towuti

1.397,75

258,0

159

Nuha

275,2

48,0

51

Wasuponda

375,1

74,0

166

Jumlah 2016

4.490,25

963,0

949

2.2.4  Budidaya Ikan Hias

Salah  satu potensi perikanan yang sedang dikembangkan di Bumi Batara Guru yaitu pengembangan budidaya ikan hias. Diantara jenis lokal yang dikembangkan dengan nilai jual yang tinggi adalah jenis Udang Hias Endemik yang merupakan biota Danau Towuti dengan kualitas ekspor. Udang berukuran sangat kecil ini memiliki aneka warna-warni setiap jenisnya dan menjadi daya tarik tersendiri.

Jenis lain ikan hias yang dikembangkan antara lain adalah ikan koi, ikan cupang dan beberapa varietas Ikan hias lainya. Sedangkan Ikan Hias jenis ikan Louhan berbagai ukuran dari ukuran kecil, sedang sampai dengan ukuran besar, dapat dengan mudah kita dapatkan di Danau Matano secara gratis sambil menikmati keindahan danau matano. Penangkapan ikan Louhan ini juga bertujuan untuk mendukung pelestarian biota endemic danau matano dari ikan predator.

 

  • Potensi Perikanan Tangkap

 Produksi perikanan tangkap di Kabupaten Luwu Timur cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam dan luar daerah. Adapun potensi perikanan tangkap yang dominan berasal dari jenis ikan pelagis kecil seperti tembang, teri, kembung, dll. Lokasi perikanan tangkap tersebar di 4 (empat) kecamatan pesisir yaitu Kecamatan Malili, Angkona, Wotu dan Burau.

Komoditas yang dihasilkan dari aktifitas penangkapan antara lain cakalang, tuna, tenggiri, layang, kembung, kerapu, cucut, teri, kepiting, kakap, bawal, baronang  dan jenis ikan lainnya yang setiap musim dapat menghasilkan produksi yang cukup tinggi. Data Perikanan Tangkap Tahun 2016 menunjukkan:

  1. Jumlah RTP Nelayan 1.012 RTP
  2. Jumlah Alat tangkap terdiri dari :

jaring insang, pukat tarik/pukat pantai, pancing, bagang apung, purse seine dan rawai dasar.

  1. Jenis Ikan yang tertangkap :
    • Pelagis besar :    tongkol, tuna, cakalang, dan tenggiri
    • Pelagis kecil :    layang, kembung, teri, dan belanak
    • Demersal :    cucut, kerapu, kakap, bawal dan baronang
  2. Armada :
    • Perahu tanpa motor : 147    unit
    • Perahu bermotor : 784    unit
    • Kapal Motor :   51    unit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.4     Potensi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan

Produksi perikanan yang cukup besar setiap tahunnya mendorong tumbuhnya berbagai usaha-usaha yang bergerak dalam bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.   Kegiatan ini sangat penting dalam upaya memaksimalkan hasil perikanan dan memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi serta meningkatkan lapangan kerja yang lebih luas.

Pemerintah Kab. LuwuTimur telah melakukan kerjasama dengan MALINDO dalam rangka pelatihan Produk Unggulan Daerah Daerah berbahan local (jagung, ubi, rumput laut, dll) guna mengembangkan home industry.

Potensi Pengembangan Komoditi Unggulan Kelautan dan Perikanan Kab. Luwu Timur dapat dilihat pada table berikut :

2.4.1  Pengolahan dan Pemasaran Skala Rumah Tangga

Pengolahan dan pemasaran produk perikanan dalam skala rumah tangga dilaksanakan pada tingkat pengecer dan pengolahan sederhana skala rumah dengan hasil produk cukup dikenal dan memiliki ciri khas tersedniri antara lain adalah Terasi Khas Malili, Ikan Kering Pangkilan, Abon Ikan, Ikan Kering Istimewa, Ikan Kering Bandeng, Keripik Rumput Laut, Dodol dan Jus Rumpt Laut, dan lain-lain. 

  

2.4.2  Pengolahan dan Pemasaran Skala Menengah

 Pengolahan dan Pemasaran produk perikanan Kab. Luwu Timur dilaksanakan pada tingkat pengumpul dan distributor. Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan adalah pengemasan rumput laut gracillaria sp di kompleks gudang rumput laut lakawali pantai sebelum di jual / dikirim ke pengumpul besar di Makassar

 

 

 

 

 

 

 

2.4.3  Pengolahan dan Pemasaran Skala Besar/industri

Pengolahan dan pemasaran dalam skala besar atau industri sangat memungkinkan khususnya pada pengembangan industri rumput laut (karaginan, agar-agar dan chip).

  • Analisis kelayakan teknis
    • Luwu Timur memliki letak yang sangat strategis dalam menunjang keberlangsungan bahan baku didukung dengan infrastruktur transportasi yang sangat memadai
    • Potensi bahan baku rumput laut dapat menyuplai industri kapasitas 50 sd 200 ton per bulan
    • Kualitas Rumput Laut Luwu Timur dan Luwu Raya secara keseluruhan merupakan kualitas terbaik dunia.

 

  • Analisis kelayakan ekonomi
    • Segmen pasar produksi industry rumput laut di Indonesia dan luar negeri sangat besar dengan tingkat persaingan yang masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah industry Pabrik di Indonesia masih sangat sedikit sehingga kebutuhan impor tepung karaginan mencapai > 1 juta ton per
    • Hasil perhitungan analisis finansial yang telah dilakukan diperoleh hasil NPV, IRR, dan PI bernilai positif yang berarti pembangunan industry rumput laut di Luwu Timur sangat layak.

 

  • Hambatan dan Tantangan
    • Industri rumput laut merupakan industri yang masih tertutup dengan teknologi dan sistem kerja alat yang cukup rumit
    • Nilai investasi industry rumput laut sangat besar
    • Tenaga terampil dan profesional masih sangat minim

2.5     Potensi Ekosistem

2.5.1  Ekosistem Hutan Mangrove

Kawasan Hutan mangrove Kabupaten Luwu Timur memiliki peranan yang sangat besar sebagai tempat pembesaran anak-anak ikan, udang dan molusca (kerang-kerangan) untuk menjamin ketersediaan benih ikan, udang dan mollusca yang selanjutnya akan menjadi ikan dan udang yang besar.

Hasil analisa citra satelit menunjukan bahwa luas hutan mangrove sepanjang pesisir Kab. Luwu Timur adalah 8.672,4 Ha. Kondisi hutan mangrove masih cukup bagus dengan kerapatan dan keanekaragaman jenis yang tergolong tinggi dan tutupan tajuk dan akar pohon yang sangat padat.

Jenis mangrove yang terdapat di Kec. Burau adalah Avicenna marina, Nypa fruticans, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris dan  Rhizhopora apiculata,  sementara di Kec. Wotu didapatkan pula beragam jenis pohon mangrove selain yang tersebut di atas yaitu Bruguiera gymnoriza dan Xylocarpus sp, Acrostichum speciosum dan Acanthus ilicifolius. Daerah Salualla di Kec. Wotu sangat potensial dijadikan daerah konservasi Mangrove karena memiliki hampir keseluruhan jenis mangrove yang ada di Kab. Luwu timur.  Ekosistem Mangrove di Kec. Angkona dan Malili dengan jenis dan ketebalan yang bervariasi menyisir disepanjang sungai ke arah muara. Upaya pelestarian hutan mangrove digalakkan secara terus menerus melalui berbagai kegiatan rahabilitasi, penananam bakau, penghijauan dan pengawasan penebangan mangrove secara serampangan.

 

2.5.2  Padang Lamun

Sebaran lamun di ditemukan pada 5 lokasi, yaitu 2 lokasi di Kec. Wotu (Timur Sungai Salualla dan depan Sungai Wotu), 2 lokasi di Kec. Angkona (Pantai Lakawali dan depan Muara Sungai Langkara) dan 1 lokasi di Kec. Malili (depan muara Sungai Lampia).  Hasil survei didapatkan ada sekitar 7 (tujuh) spesies yaitu :   Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Ekosistem Halophila ovalis, H. minor, Syringodium isoetifolium, Cymodocea serrulata dan Halodule uninervis.

 

2.5.3  Ekosistem Terumbu Karang

Distribusi karang di Kab. Luwu Timur sebagai habitat berbagai biota laut yang dijadikan sebagai lokasi wisata dan lain-lain tersebar di beberapa lokasi yaitu di daerah Kec. Burau meliputi daerah Tanjung Ujung Suso, Mabonta, Ujung Tanah, dan Pasi Maeja-Eja; di Kec. Wotu; serta Pulau Bulu Poloe, Teluk Labutabuta, Perebubu, Parasalu di Kec. Malili.

  • Jenis Karang yang dominan:
  • Burau: Acropora spp, Montipora spp, Porites spp, Favia spp, Favites spp, Fungia spp, Lobophyllia  spp, Symphyllia  spp, dan Goniastrea  spp
  • Malili : Leptoseris spp, Pachyseris spp, Porites spp, Favia spp, Pavona spp, Acropora spp, Lobophyllia spp, Symphyllia spp, Goniastrea spp, dan Porites spp
  • Persebaran Terumbu Karang :
  1. Tanjung Ujung Suso, terdiri dari 7 Famili, 10 spesies, Kelimpahan 178 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Chaetodontidae
  2. Mabonta, terdiri dari 12 Famili, 21 spesies, Kelimpahan 289 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Serranidae
  3. Ujung Tanah, terdiri dari 7 Famili, 10 spesies, Kelimpahan 231 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Chaetodontidae
  4. Bulu Poloe I, terdiri dari 15 Famili, 27 spesies, Kelimpahan 420 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Apogonidae
  5. Bulu Poloe II, terdiri dari 6 Famili, 15 spesies, Kelimpahan 477 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Acanthurida
  6. Teluk Labutabuta, terdiri dari 11 Famili, 26 spesies, Kelimpahan 324 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Acanthuridae
  7. Teluk Parebubu, terdiri dari 7 Famili, 8 spesies, Kelimpahan 51 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Centriscidae, Pomacentridae, dan Acanthuridae
  8. Teluk Parasulu, terdiri dari 5 Famili, 7 spesies, Kelimpahan 21 ekor/ 250 m2, Famili dominan: Labridae, Pomacentridae, dan Sydnodontidae

 

  • Usaha pelestarian terumbu karang:

Usaha pelestarian ekosistem terumbu karang di Bumi Batara Guru menjadi salah satu program prioritas  melalui kegiatan rehabilitasi dan transplantasi  terumbu karang dengan melibatkan berbagai pihak disertai dengan upaya pembinaan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Dari beberapa titik pantau ekosistem terumbu karang sepanjang pantai pesisir Kab. Luwu Timur dan kawasan Bulu Poloe, diperoleh data hábitat terumbu karang telah mulai mengalami pertumbuhan secara alami dan cukup bagus.

2.6     Potensi Wisata Bahari  Bumi Batara Guru

Potensi wisata bahari Kab. Luwu Timur adalah potensi wisata yang belum dikembangkan secara optimal. Potensi ini berkembang secara alami seiring dengan peningkatan sarana dan prasarana jalan dan fasilitas lainnua.

2.6.1 Pengembangan Ekowisata Bahari

Beberapa Lokasi wisata bahari yang cukup dikenal masyarakat sebagai tempat rekreasi keluarga seperti Pantai Lemo, Pantai Batu Menggoro, yang dapat dijangkau hanya melalui jalur darat. Sedangkan beberapa pantai lainnya mesti ditempuh dengan jalur laut seperti Pulau Bulu Poloe, Muara Pantai Langkara, Lagowari dan lain-lain. 

Kawasan Pulau Bulu Poloe  yang memiliki nilai historis dan merupakan hotspot mancing mania yang sangat potensial untuk dikembangkan dan dijadikan sebagai kawasan wisata dan kawasan konservasi alam (EKowisata Bahari Pulau Bulu Polo’e)

Pantai Lemo merupakan salah satu wisata pilihan yang ada di Luwu Timur. Wisata pantai ini menyuguhkan pemandangan alam laut yang memanjakan mata pengunjung yang datang, tak heran jika pantai ini selalu ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati indahnya pemandangan laut serta semilir angin sepoi-sepoi yang menambah keindahan dari Pantai ini. Pantai ini terletak di Desa Mabonta, kecamatan Burau, kabupaten Luwu Timur. Pantai Lemo memiliki kontur dataran pesisir yang memanjang, banyak ditumbuhi oleh tanaman kelapa di sepanjang pantai, serta terdapat sarana dan prasarana penunjang bagi wisatawan seperti Warung Wakan, Toilet umum, Gasebo, serta dermaga yang bisa dijadikan salah satu spot foto bagi para pengunjung

 

2.6.2  Pengembangan Ekowisata Danau Purba

Malili Lake System atau Kompleks Danau Malili merupakan danau Kompleks Danau Malili adalah danau purba yang memiliki  habitat biodiversity terkaya di Kawasan Sulawesi. Kompleks Danau Malili meliputi 3 (tiga) Danau Besar yaitu Danau Matano (danau terdalam di Indonesia dan ke-8 didunia), Danau Mahalona, dan Danau Towuti (danau terluas ke-2 di Indonesia setelah danau Toba) yang terhubung satu sama lain dan mengalir menuju perairan Teluk Bone dan  menjadi sumber tenaga bagi 3 unit Pembangkit Listrik Tenaga Air di Bumi Batara Guru yang dibangun oleh PT Vale (Inco).

Danau Matano merupakan sebuah danau tektonik dengan luasnya mencapai 8.218, 21 Ha dan merupakan salah satu danau terdalam mencapai 550 meter. Sumber mata air danau berasal dari sebuah kolam berukuran 8 x 12 m di desa Matano yang berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

 

 

Danau matano menawarkan panorama alam yang indah. Sepanjang mata memandang, kita akan di suguhkan dengan hamparan danau yang luas dan susunan pegunungan di sebrang danau yang semakin menambah Indahnya Danau ini. Siapapun boleh berkunjung ke danau ini dan tidak dikenakan biaya masuk atau apapun itu. Di danau ini juga terdapat dermaga yang bisa di jadikan tempat berteduh atau salah satu spot foto bagi pengunjung. Selain itu, danau ini bisa dijadikan sebagai salah-satu tempat favorit untuk diving bagi kalian yang menyukai panorama bawah laut yang Indah.

Beberapa tepian danau, kini dijadikan lokasi berekreasi seperti Pantai Ide, Pantai Kupu – kupu, Pantai Salonsa. Danau Matano menawarkan panorama eksotik, air yang sejuk, landscaping tepian danau tertata rapi dipenuhi rimbunan pohon-pohon besar menjadikan suasananya sangat teduh. Bagi pencinta olahraga air tidak perlu khawatir, karena sarana rekreasi di danau Matano dilengkapi berbagai fasilitas seperti Kayak, Banana Boat, Jet Ski, Kapal Pesiar, serta didukung dengan penempatan Gasebo, Bungalow, Restaurant, taman bermain untuk anak – anak dan fasilitas lengkap lainnya.

Kawasan Danau Towuti merupakan salah-satu daerah wisata saat musim libur tiba dan merupakan lokasi wisata yang populer di Kabupaten Luwu Timur. Danau ini menjadi salah-satu danau yang menawan karena memiliki air tawar di dalamnya yang masih sangat jernih. Danau ini memiliki tiga pulau menawan di tengah danau yang luas yaitu Pulau Loeha, Pulau Bolong, dan Pulau Kembar.

Danau Towuti sangat mengesankan karena kearifan lokal yang masih terjaga kelestariannya. Sampai saat ini kita masih bisa berkaca di jernihnya air Danau Towuti. Kondisi air Danau Towuti yang hangat, serta sangat dalam semakin menambah daya tarik danau ini untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Tercatat sebagai danau air tawar terluas kedua setelah danau Toba di Sumatera Utara, danau Towuti memberikan jasa lingkungan pada ekosistem di sekelilingnya. Salah satu danau tektonik ini masih menyimpan misteri kedalaman permukaannya. Disini, terdapat 14 jenis ikan air tawar endemic Sulawesi Crocodylus Porosus dan Hydrosaurus Amboinensis.

Berdasarkan hasil penelitian sementara, Kompleks Danau Malili menyimpan rekaman perubahan iklim dan lingkungan pada tepi barat samudra pasifik selama ribuan tahun sehingga menjadi pusat penelitian Ilmuwan dunia dari mancanegara sejak tahun 2014 yang diprakarsai oleh Departemen Ilmu Geologi Universitas Brown Amerika bekerjasama dengan Depertemen Pertambangan dan Mineral Institut Teknologi Bandung yang disponsori oleh Science Foundation dan ICDP Amerika serikat.

 

2.6.3  Pengembangan Ekowisata Mangrove

Potensi mangrove di Bumi batara Guru memiliki peranan yang sangat besar dalam angka menjamin kelangsungan sumberdaya perikanan dan kelautan serta pangan sehingga perlu dilestarikan. Upaya itu terwujud melalui pengembangan ekowisata mangrove yang saat ini sedang digalakkan oleh desa-desa pesisir dalam rangka menjaga kelestarian hutan mangrove serta menjadi destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan sehingga dapat menggerakkan sector ekonomi kreatif masyarakat sekitar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.7     Potensi Pangan

Potensi Pangan Strategis Kabupaten Luwu Timur 

2.6.1 Pengembangan Ekowisata Bahari

 

 


BAGIAN 3 - SARANA DAN PRASARANA

 

Untuk mendukung pengembangan investasi di Sektor Kelautan dan Perikanan, maka Pemerintah Daerah Kab. Luwu Timur telah membangun sarana prasarana penunjang yang memadai diantaranya :

  1. 1. Sarana Prasarana Penunjang Transportasi

Fasilitas transportasi yang dibangun sebagai berikut :

  1. Fasilitas Transportasi Darat, meliputi jalan dan jembatan yang dibangun dengan konstruksi aspal dan beton
  2. Fasilitas Transportasi Laut/Air, meliputi Pelabuhan/Dermaga baik yang di Laut maupun di danau
  3. Fasilitas Transportasi Udara, meliputi Bandar Udara Sorowako yang sementara ini dalam pemanfaatan terbatas untuk mendorong pengembangan investasi yang lebih baik di Bumi Batara Guru

 

3.2.    Sarana Prasarana Penunjang Produksi

  • Kompleks Industri Rumput Laut Agar-Agar

Pembangunan Industri Kabupaten Luwu Timur telah dirintis sejak lama dan dapat terealisasi pada tahun 2016 melalui Anggaran Tugas Pembantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan  yang berlokasi di Kawasaan Industri Pasi-Pasi. Pabrik yang dibangunan adalah Pabrik Rumput Laut Agar-Agar dengan Kapasitas Produksi 3 Ton/hari atau berkisar 90 Ton Perbulan dengan output/hasil akhir adalah  tepung agar. Pabrik Tepung Agar ini merupakan Pabrik Tepung Agar Pertama di Indonesia yang dibangun oleh pemerintah

Dari hasil pengujian awal, maka dapat diperoleh kualitas Tepung Agar GS 950 yang merupakan kualitas terbaik, sehingga diharapkan pabrik ini dapat dikelola oleh investor berpengalaman sehingga dapat mendorong Kabupaten Luwu Timur sebagai lokomotif utama dalam pengembangan Industri Rumput Laut Agar-Agar di Indonesia bagian Timur

Adapaun fasilitas yang dimiliki antara lain sebagai berikut :

  1. Fasilitas Gedung kantor dan Pabrik
  2. Fasilitas mesin Produksi
  3. Fasilitas Pengolahan Air Limbah
  4. Fasilitas Pengolahan Air Bersih
  5. Fasilitas Instalasi Listrik

 

 

  • Fasilitas Pelabuhan Perikanan

Fasilitas  Pelabuhan Perikanan di Kab. Luwu Timur secara umum terdiri dari 3 (tiga) fasilitas utama yaitu :

  1. Pangakalan Pendaratan Ikan (PPI)
    • Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI Malili) terletak di Desa Wewangriu Kec Malili dan telah difungsikan dengan baik. Kompleks PPI Malili telah dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang dan senantiasa dikembangkan secara berkelanjutan antara lain : Dermaga dan Bangsal Pelelangan Ikan, Kantor PPI Malili, Kantin dan Koperasi PPI Malili, Aula Nelayan, Bangsal Pengolahan, Fasiltasi MCK dan instalasi air bersih, SPDN PPI Malili, Kios Pemasaran PPI Malili.
    • Pangakalan Pendaratan Ikan (PPI) Wotu berlokasi di Desa Bawalipu Kec. Wotu dalam proses Pembangunan Tahap I (Pemasangan Shet Pile dan penimbunan).

 

  1. Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang di bangun di Bumi Batara Guru sebanyak 2 (dua) Unit yaitu TPI Lakawali Pantai dan TPI Wotu. TPI Tersebut melayani aktivitas bongkar muat ikan baik dari hasil perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Sampai saat ini, Aktifitas TPI yang berjalan sesuai dengan fungsinya adalah TPI Lakawali Pantai yang telah direhabilitasi berat untuk menunjang aktivitas bongkar muat ikan dan rumput laut di daerah ini.

  1. Fasilitas Tambatan Perahu

 merupakan salah satu fasilitas penunjang bongkar muat hasil perikanan. Jumlah tambatan perahu yang telah dibangun sebanyak 5 (Enam) unit yaitu Tambatan Perahu Desa Bahari, Tambatan Perahu Desa Lakawali Pantai, Tambatan Perahu Lampia, dan Tambatan Perahu Pantai Lemo, Tambatan Perahu pasi-Pasi dan Tambatan Perahu Cerekang. Tambatan tersebut telah difungsikan dengan baik dan memberikan manfaat yang besar terhadap masyarakat pembudidaya dan nelayan. Disamping itu, tambatan perahu berfungsi sebagai ikon wisata bahari yang mendorong pengembangan aktivitas perekonomian masyarakat sekitar dan penciptaan lapangan kerja baru.

 

3.2.3  Kompleks Balai Benih Ikan

Balai Benih Ikan (BBI) yang terletak di Desa Margolembo Kec. Mangkutana dengan luas berkisar 1,5 Ha memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi dan kualitas perikanan budidaya Kab. Luwu Timur. BBI Margolembo berperan sebagai salah satu pemasok utama bibit ikan air tawar di masyarakat dengan harga yang terjangkau dengan kualitas yang terjamin.  BBI Margolembo juga berperan penting dalam penyediaan bantuan bibit ketika terjadi bencana alam seperti banjir, dll. Fungsi BBI Margolembo terus ditingkatkan seiring dengan peningkatan aktivitas budidaya air tawar di Bumi Batara Guru.  


3.2.4  Kompleks Gudang Rumput Laut Lakawali Pantai

Kompleks Gudang Rumput Laut Lakawali Pantai merupakan fasilitas tempat penjemuran, penampungan dan pengemasan rumput laut gracillaria sebelum di kirim ke Makassar untuk di ekspor keluar negeri. Kompleks ini dilengkapi dengan 2 (dua) buah bangunan gudang permanen dan lantai jemur beton. Sedangkan untuk pengelolaannya diserahkan ke-Pihak ketiga melalui system sewa menyewa. Keberadaan gudang ini sangat penting dalam upaya tetap menjaga kestabilan harga Rumput Laut serta menjaga mutu dan kualitas rumut laut Kab. Luwu Timur


3.2.5  Pabrik Es 

Fasilitas Pabrik Es di kab. Luwu Timur sebanyak 2 (dua) unit, yaitu Pabrik Es Burau yang berlokasi di Desa Burau Pantai Kec. Burau dan Pabrik Es Malili yang berlokasi di Kompleks PPI Malili. Fasilitas tersebut sangat penting dalam rangka mendukung penyediaan system rantai dingin yang murah dan berkualtias bagi pemubidaya dalam rangaka menjaga dan meningkatkan  mutu dan kualitas hasil perikanan. Disamping Pabrik Es yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Kab. Luwu Timur, terdapat juga Pabrik Es yang dibangun oleh swasta yang tersebar dikecamatan pesisir

 

3.2.6  Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN)

Keberadaan SPDN dalam rangka menunjang ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sangat dibutuhkan oleh masyarakat nelayan dan pembudidaya sehingga dapat mendorong peningkatan kesejahteraan.

SPDN yang telah beroperasi di Kab. Luwu Timur sebanyak 2 (dua) unit yaitu SPDN PPI Malili dengan Kapasitas 32.000 Liter perbulan yang dikelola oleh Koperasi Mina Bahari dan SPDN di Kecamatan Wotu yang dikelola oleh koperasi dengan kapasitas 8000 liter perbulan

 

3.2.7  Fasilitas Pengawasan Sumber daya Kelautan dan Perikanan

Wilayah kab. Luwu Timur yang kaya dengan potensi kelautan dan perikanan sangat rentan terhadap kerusakan akibat illegal fishing, bom ikan, strum, racun, dll). Hal tersebut harus dikendalikan melalui kegiatan pengawasan secara berkesinambungan. Kegiatan Patroli dan pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan dilaksanakan secara rutin bersama dengan Polisi dan Angkatan Laut. AdapunFasilitas pengawasan di antaranya :

 

  • Pos Pengawasan sebagai pusat kegiatan pengawas-an yang digunakan oleh kelompok Masyarakat Pengawas. Kapal motor fiber 2 (dua) unit.
  • Speed boat sebanyak 1 (satu) unit untuk melak-sanakan Patroli Pengawas-an Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara rutin di wilayah pesisir Kab. Luwu Timur.

3.2.8  Fasiltas Alat Berat (Excavator)

Alat Berat Excavator yang dimiliki oleh Dinas Kelautan dan Perikanan sebanyak 2 (dua) Unit Peralatan ini sangat berperan penting dalam upaya peningkatan produksi kelautan dan perikanan khususnya pada sektor perikanan budidaya. Peralatan ini digunakan sebagai sarana sosial yang bermanfaat untuk :

  1. Pembentukan/Rehabilitasi Tambak
  2. Pembentukan Jalan Produksi
  3. Pembentukan/Rehabilitasi Saluran irigasi tambak (sekunder)

 

 

3.2.9  Fasilitas Jaringan Irigasi, Jalan Produksi dan Jembatan/Pelat Duicker Kawasan Tambak

Ketersedian jaringan irigasi tambak yang memadai sangat mendukung dalm peningkatan produksi hasil kelautan dan perikanan. Disamping itu akses jalan menuju sentra produksi (kawasan tambak) tidak kalah pentingnya untuk memberikan  kemudahan akses menuju lokasi tambak sehingga dapat mengurangi biaya transportasi dengan menggunakan perahu yang cukup tinggi.

   

 

3.3. Fasiltas Penunjang Lainnya

  • Penggelondongan Skala RT :    28 Unit
  • Unit Pembenihan Rakyat :    15 Unit
  • Kedai Pesisir :      1 Unit
  • Tambak Percontohan :    200 Ha

 


BAGIAN 4 - PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

 

 

  1. 1. Industrialisasi Sektor Kelautan dan Perikanan

Visi  dan Misi Kab. Luwu Timur menuju Luwu Timur Terkemuka 2021  merupakan kelanjutan dari visi misi Agroindustri yang telah dicanangkan dalam periode kedua kepemimpinan di Bumi Batara Guru. Kebijakan pembangunan yang merata keseluruh pelosok desa dengan sistem Pembangunan Desa Mengepung Kota telah memberikan dampak yang sangat besar dalam menciptakan sentra-sentra produksi dan mempermudah akses/transportasi kelokasi produksi.

Pada sektor kelautan dan perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan kab. Luwu Timur bertekad untuk menyukseskan Visi Luwu Timur Terkemuka melalui peningkatan produksi perikanan berkualitas dan berdaya saing tinggi. Adapaun komoditi unggulan yang sudah dikembangkan adalah Ikan bandeng, Udang Windu dan Vaname, dan Rumput Laut Gracillaria, sp dan Euchema Cootooni. Sedangkan komoditi lain yang akan dikembangkan antara lain Lobster, Ikan Kerapu, Teripang, dan Kepiting.

Untuk mendukung kesuskesan Agroindustri, maka Pemerintah Kab. Luwu Timur telah membangun berbagai sarana dan prasarana penunjang produksi dan pengolahan hasil perikanan yang tersebar merata diselurh wilayah Kab. Luwu Timur khususnya di 4 (empat) Kecamatan pesisir.

 Industri yang telah beroperasional di Kab. Luwu Timur adalah Industri Pabrik Es untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan serta industri pengemasan rumput laut. Sedangkan pengembangan ke arah industri dalam skala besar yaitu Pembangunan Industri Rumput Laut di Kab. Luwu Timur baik Industri Agar-Agar maupun industri Karaginan.

Pembangunan Tahap I Pabrik Rumput Laut jenis Agar-Agar telah dilaksanakan dan menghasilkan tepung agar kualitas I (GS 950) dan merupakan industri rumput laut pertama  yang dibangun oleh Pemerintah sehingga dapat menjadi pilot project dan ikon penggerak pembangunan Industri Rumput Laut di Indonesia.

4.2.    Pengembangan Infrastruktur 

Pengembangan dan pembangunan infrastruktur sektor kelautan dan perikanan di Kab. Luwu Timur dari tahun 2004 sampai dengan sekarang menunjukkan  peningkatan yang sangat besar dan berpengaruh signifikan dalam upaya mendorong investasi di sektor kelautan dan perikanan. Adapun sarana dan prasarana yang telah dibangun baik melalui dana APBD, DAK, APBD Tk. 1, APBN, dan lain-lain sebagai berikut :

 

Tahun

Infrastruktur

2004

s/d

2006

Rehabilitasi  Saluran Irigasi, Tempat Pendaratan Ikan, Tempat Tambatan Perahu, Karamba Jaring Apung, Karamba Jaring Apung, Unit Pembenihan Rakyat, Optimalisasi Balai Benih Ikan

2007

Gudang Rumput Laut, Gedung Produksi Pabrik Es, Speedboat Pengawasan, Pengolah dan Pengeringan Rumput Laut, Kedai Pesisir, Perahu dan Alat Tangkap

2008

Dermaga Pangkalan Pendaratan Ikan, Bangsal Pemasaran Ikan, Kantor Pabrik Es, Pondok Pos Jaga Tambak, Rehabilitasi Irigasi Tambak, Pembuatan Pintu Air Tambak

2009

Dermaga PPI Tahap II, Kantor PPI, Jalan dan Drainase PPI, Rehab/Pembuatan Pintu Air Tambak  II, Halaman Pengeringan Gudang RL, Pagar Gudang Rumput Laut

2010

Kantin dan Koperasi Nelayan PPI, MCK dan Tower Air PPI, Mesin Press Rumput Laut, Alat Komunikasi Pengawasan, Pelataran Parkir PPI, Excavator.

2011

Pemb. SPDN, Mushollah, Bangsal Pengolahan, Pagar Kompleks PPI, Penimbunan dan Penataan Pelataran Parkir PPI, Tambatan Perahu, Jalan Produksi,  Ice Storage, Lantai Jemur, Pos Pengawasan.

2012

Pembangunan Kios Pemasaran PPI Malili, Gudang Rumput Lakawali, Dermaga/Tempat Tambat Perahu Desa Harapan, Pelat Dekker PPI, Pengadaan Ice Storage, Jalan Produksi

2013

Pembangunan Tambatan Perahu, Pemb. Pagar dan Penataan Halaman Pabrik Es, Pemb. Jalan Produksi, Pemb. Jembatan Saluran Tambak, Rehab. Saluran Irigasi Tersier

2014

Pembangunan Jalan Produksi, Pembangunan Jembatan Saluran Tambak, Pembangunan Pelat Duicker, Rehabilitasi TPI Lakawali Pantai, Penataan Halaman Bangsal Pengolahan, dll

2015

Pembangunan Jalan Produksi, Pembangunan Jembatan Saluran Tambak, Pembangunan Pelat Duicker, Pembangunan pabrik Es Malili, Penataan Halaman Halaman Mushollah, Pembangunan Lantai Jemur, Pembangunan Bangsal Pembibitan

2016

Pembangunan Jalan Produksi, Pembangunan Jembatan Saluran Tambak, Pembangunan Pelat Duicker, Pembangunan Lantai Jemur, Pembangunan PPI Wotu Tahap I, Pembangunan Pabrik Rumput Laut, Rehabilitasi Pabrik Es Burau

4.3.    Kemitraan

Untuk mendukung pengembangan investasi Sektor Kelautan, Perikanan dan Pangan ”Bumi Batara Guru” dibutuhkan kerjasama seluruh pihak. Jalinan kerjasama tersebut dilakukan antara lain dengan :

  • Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
  • Kementerian Pekerjaan Umum RI
  • Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan
  • Dinas PU Provinsi Sulawesi Selatan
  • Vale Tb
  • Malindo (Masamba)
  • PT Agarindo Bogatama
  • ASPPERLI
  • Kadin kab. Luwu Timur
  • BUMD Kab. Luwu Timur
  • Universitas Hasanuddin (UNHAS)
  • KOSPERMINDO (Rumput Laut Gracillaria, sp)
  • Celebes Seawood Group (Rumput Laut Gracillaria, sp)
  • Malindo (Pelatihan dan Pengolahan Home Industry)
  • NGO Lokal

 

4.4.    Hambatan/Permasalahan

Beberapa hambatan dan permasalahan dalam pengembangan potensi kelautan, perikanan dan pangan Kab. Luwu Timur antara lain :

  • Masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam penerapan metode dan teknologi budidaya maupun penangkapan.
  • Terjadinya perubahan iklim dan bencana alam serta serangan hama dan penyakit pada organisme budidaya.
  • Kondisi tambak secara umum masih belum memenuhi kelayakan teknis, dikarenakan biaya untuk rehabilitasi tambak cukup besar.
  • Bantuan modal dari lembaga keuangan dengan bunga elatif lebih ringan belum memadai
  • Fluktuasi harga komoditi akibat sebagai akibat dari permainan harga dari spekulan yang berdampak pada penurunan kualitas dan mutu hasil perikanan

 

 

 

BAGIAN 5 - PENUTUP

 

 

Potensi Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan Kabupaten Luwu Timur yang sangat potensial untuk dikembangkan membuthkan dukungan penuh dari seluruh pihak yang bergerak dibidang pengembangan dan investasi sektor kelautan dan perikanan agar dapat berkembang menjadi sentra produksi dan pengembangan komoditi kelautan dan perikanan berbasis masyarakat dengan prinsip pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

 

Kerjasama yang baik antara seluruh Pihak baik dari Pemerintah Daerah dan stakeholder dalam upaya mensukseskan Kab. Luwu Timur sebagai Kab. Terkemuka melalui program Pengelolaan Potensi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara berkelanjutan yang didukung dengan Pengembangan Industrialisasi Sektor Perikanan dan Kelautan dapat diwujudkan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini dapat  memberikan peran penting dalam upaya menciptakan lapangan kerja baru dan peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan.

 

Pemerintah Kab. Luwu Timur menyambut baik setiap investasi sektor kelautan dan perikanan yang akan dikembangkan di Bumi Batara Guru dan memberikan berbagai kemudahan dan dukungan kebijakan program agar investasi tersebut dapat terlaksana dengan baik dan berkesinambungan sehingga dapat menunjang keberhasilan  Pembangunan Kab. Luwu Timur ke arah yang semakin lebih baik dan lebih maju.

 

Malili, 07 Januari 2019

KEPALA DINAS

 

 

Ir. NURSIH HARIANI

Pkt. Pembina Utama Muda

Nip.  19680610 199403 2 014

 

Kontak

  This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  0474 321005
  Jl. Soekarno Hatta Puncak Indah, Malili

Kunjungi Sosial Media